LAPORAN
MINI RISET
PMII UIN WALISONGO SEMARANG
LAPORAN
Disusun
guna memenuhi tugas
Mata
Kuliah : Pengantar Studi Islam
Dosen
Pengampu : M. Rikza Chamami,
M.S.I
Disusun
oleh :
Dewi Zulaeva (133911053)
Cyntia Ayu Puspaningtiyas
(133911061)
Lina Indah Nurmalita (133911063)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
PMII UIN WALISONGO SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Dalam laporan ini kami akan membahas tentang pendalaman keterkaitan
antara organisasi agama dengan mahasiswa. Dan kami mengambil satu contoh
organisasi mahasiswa, yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia‖. Kami akan menjelaskan hal-hal
yang bersangkutan dengan organisasi ini. Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia atau yang biasa di singkat dengan PMII,merupakan salah satu
organisasi mahasiswa islam yang ada di Indonesia. Berikut ini adalah penjelasan
yang lebih rinci tentang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
B. PERUMUSAN MASALAH
Penelitian ini menggunakan pertanyaan penelitian:
1. Apakah pergerakan mahasiswa islam indonesia (PMII) itu ?
2. Bagaimana sejarah
PMII ?
3. Apa dasar
pemikiran serta sumber ajaran yang dipegang oleh PMII ?
4.
Apa tujuan pokok yang ingin dicapai oleh PMII ?
5.
Apa saja kegiatan keagamaan dalam
PMII ?
6.
Bagaimana pandangan PMII terhadap
penerus bangsa saat ini ?
C. MAKSUD DAN
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas akhir
Mata Kuliah Pengantar Studi Islam (PSI), serta melatih penulis untuk mengadakan
riset mini. Riset mini diharapkan dapat memberi gambaran mengenai penelitian
kualitatif.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini dapat bermanfaat
untuk menambah pengetahuan mengenai penelitian kualitatif itu sendiri. Selain
itu untuk mengetahui lebih mendalam mengenai organisasi Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia (PMII).
BAB II
LANDASAN TEORI
Sejarah masa lalu adalah cermin masa kini dan masa
datang. Dokumen historis, dengan demikian merupakan instrumen penting untuk
mengaca diri. Tidak terkecuali PMII. Meski dokumen yang disajikan dalam tulisan
ini terbilang kurang komplit, sosok organisasi mahasiswa tersebut sudah
tergambar jelas berikut pemikiran dan sikap-sikapnya. Dokumen Sejarah menjadi
sangat penting untuk ditinjau ulang sebagai referensi atau cerminan masa kini
dan menempuh masa depan, demikian halnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
(PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan yang gerak perjuangannya adalah membela
kaum mustadh’afin serta membangun kebangsaan yang lebih maju dari berbagai
aspek sesuai dengan yang telah dicita-citakan.
PMII, yang sering kali disebut Indonesian
Moslem Student Movement atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah anak
cucu NU (Nahdlatul Ulama) yang terlahir dari kandungan Departemen Perguruan
Tinggi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), yang juga anak dari NU. Status
anak cucu inipun diabadikan dalam dokumen kenal lahir yang dibikin di Surabaya
tepatnya di Taman Pendidikan Putri Khodjijah pada tanggal 17 April 1960
bertepatan dengan tanggal 21 Syawal 1379 H, sebagai organisasi underbow Partai
NU. Dalam perkembangannya PMII menjadi organisasi independen dan menekankan
diri sebagai organisasi pergerakan, dengan tujuan menciptakan pribadi Muslim
yang memiliki komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia (Pasal 4
AD/ART). Struktur organisasi PMII meliputi Pengurus Besar, Koordinator Cabang
(Provinsi), Cabang (Kabupaten/Kota), Komisariat (Kampus) dan Rayon (Fakultas).
Proses berorganisasi diatur melalui berbagai jenis rapat mulai dari Kongres
(nasional) hingga RTAR.
BAB III
KONDISI LAPANGAN (PROFIL ORGANISASI)
Rayon Abdurrahman Wahid Tarbiyah
merupakan wadah kreativitas kader PMII yang berlatar
belakang mahasiswa fakultas tarbiyah kampus IAIN Walisongo Semarang.
Fakultas
tarbiyah terdiri dari berbagi jurusan di IAIN Walisongo Semarang.
Ini yang menjadi keunikan tersendiri, karena dari berbagai jurusan
itu mempunyai karakteristik intelektualitas yang tinggi dan mampu memunculkan
suatu gerakan sosial yang masif dari tataran mahasiswa sampai masyarakat
tersendiri. Dari situlah PMII Rayon Abdurrahman Wahid Tarbiyah menjadi
barometer gerakan sosial melalui Pendidikan dan barisan Garda Terdepan Melawan
Ketidak adilan untuk mencapai “civil sosiety”.
Nama Abdurrahman
Wahid (Gus Dur) dipilih karena Gus Dur adalah tokoh bangsa yang telah banyak
mewariskan nilai-nilai kebangsaan dan ke-Indonesiaan. Selain itu, Gus Dur
merupakan tokoh besar NU, sehingga memang dianggap layak untuk menjadi nama
PMII di Fakultas Tarbiyah. Harapan dari digantinya nama PMII Rayon Tarbiyah
menjadi Rayon Abdurrahman Wahid adalah agar kelak dapat meneruskan cita-cita
dan perjuangan Gus Dur yang sudah wafat.
Tidak hanya itu,
pergantian nama ini juga sebagai identitas dan ciri khas organisasi, serta
dimaksudkan agar nama rayon tidak terkait dan terikat dengan nama lembaga atau
organisasi apa pun, karena sebelumnya nama Rayon Tarbiyah mengikuti nama
Fakultas Tarbiyah yang sekarang berubah menjadi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan.
PENGURUS HARIAN PMII RAYON ABDURRAHMAN WAHID
KOMISARIAT WALISONGO SEMARANG
MASA KHIDMAT 2014-2015
Pengurus Harian
Ketua Umum : Yulizar Farid Firdaus
Wakil Ketua : Beni Septa Wardhana
Sekretaris Umum : Khaerul Umam
Wa. Sekretaris : Anisa Gina Nazda
Bendahara :
Yuli Haflatun Ni’mah
Wa.Bendahara : Nur Aini
BAB IV
ANALISA LAPANGAN
1.
Pengertian
PMII
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
atau disingkat PMII, merupakan satu dari elemen mahasiswa yang terus
bercita-cita mewujudkan bangsa Indonesia ke depan menjadi lebih baik. PMII
berdiri tanggal 17 April 1960 dengan latar belakang situasi politik tahun 60-an
yang mengharuskan mahasiswa turut andil dalam mewarnai kehidupan sosial politik
di Indonesia. Pendirian PMII dimotori oleh kalangan muda NU (meskipun di
kemudian hari dengan dicetuskannya Deklarasi Murnajati 14 Juli 1972, PMII
menyatakan sikap independen dari lembaga NU). Diantara pendirinya adalah Mahbub
Djunaidi dan Subhan ZE (seorang jurnalis sekaligus politisi legendaris).
2.
Sejarah
PMII
Berdirinya PMII terkait dengan kondisi
politik pada PEMILU 1955, berada di antara kekuatan politik yang ada, yaitu
MASYUMI, PNI, PKI dan NU. Partai MASYUMI yang diharapkan mampu untuk menggalang
berbagai kekuatan umat Islam pada saat itu ternyata gagal. Serta adanya
indikasi keterlibatan MASYUMI dalam pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik
Indonesia (PRRI) dan Perjuangan Semesta (PERMESTA) yang menimbulkan konflik
antara Soekarno dengan MASYUMI (1958). Hal inilah yang kemudian membuat
kalangan mahasiswa NU gusar dan tidak enjoy beraktivitas di HMI (yang saat itu
lebih dekat dengan MASYUMI), sehingga mahasiswa NU terinspirasi untuk mempunyai
wadah tersendiri “di bawah naungan NU”, dan di samping organisasi kemahasiswaan
yang lain seperti HMI (dengan MASYUMI), SEMMI (dengan PSII), IMM (dengan
Muhammadiyah), GMNI (dengan PNI) dan KMI (dengan PERTI), CGMI (dengan PKI).
Proses kelahiran PMII
terkait dengan perjalanan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), yang lahir
pada 24 Februari 1954, dan bertujuan untuk mewadahi dan mendidik kader-kader NU
demi meneruskan perjuangan NU. Namun dengan pertimbangan aspek psikologis dan
intelektualitas, para mahasiswa NU menginginkan sebuah wadah tersendiri.
Sehingga berdirilah Ikatan Mahasiswa Nahdhatul Ulama (IMANU) pada Desember 1955
di Jakarta, yang diprakarsai oleh beberapa Pimpinan Pusat IPNU, diantaranya
Tolchah Mansyur, Ismail Makky dll.
Namun akhirnya IMANU tidak berumur
panjang, karena PBNU tidak mengakui keberadaanya. Hal itu cukup beralasan
mengingat pada saat itu baru saja dibentuk IPNU pada tanggal 24 Februari 1954,
“apa jadinya kalau bayi yang baru lahir belum mampu merangkak dengan baik sudah
menyusul bayi baru yang minta diurus dan dirawat dengan baik lagi.” Akhirnya,
pada tanggal 14-16 April 1960 dilaksanakan Musyawarah Nasional Mahasiswa NU
bertempat di Taman Pendidikan Puteri Khadijah Surabaya dengan dihadiri
mahasiswa NU dari berbagai penjuru kota di Indonesia, dari Jakarta, Bandung,
Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang dan Makassar, serta
perwakilan senat Perguruan Tinggi yang bernaung dibawah NU. Pada saat itu
diperdebatkan nama organisasi yang akan didirikan. Delegasi Yogyakarta
mengusulkan nama Himpunan atau Perhimpunan Mahasiswa Sunny. Delegasi Bandung
dan Surakarta mengusulkan nama PMII. Maka secara resmi pada tanggal 17
April 1960 dinyatakan sebagai hari lahir PMII.
PMII Tarbiyah baru lahir ± 5 tahun setelah PMII Komisariat Walisongo
bediri. Ketua pertamanya sekarang menjadi Dosen di UNWAHAS yakni Dr. Nur
Rahmat. PMII Rayon Tarbiyah sendiri sudah berumur ± 34 tahun, dimana sebelumnya
nama dari PMII Rayon Abdurrahman Wahid itu bernama PMII Rayon Tarbiyah.
3.
Dasar pemikiran serta sumber ajaran
yang dipegang oleh PMII
Secara esensial, PMII merupakan berkah dari anugerah Tuhan yang mampu
menggali sumber-sumber nilai, yang kemudian dijadikan nilai gerak, landasan
berfikir dan kemudian dinamakan Nilai-nilai Dasar Pergerakan (NDP) itu sendiri.
Ibarat orang Nu, NDP adalah Qonun Al-asasinya. Manusia sebagai mandataris Tuhan di muka bumi
(kholifatul fil ardhi), tentunya memiliki fungsi dan tanggung jawab untuk mengabdi
kepada Allah, namun disisi lain manusia harus menjaga hubungan baik dengan sesama
manusia, dan juga dengan alam sebagai sama-sama makhluk Tuhan. Rumusan-Rumusan NDP terdiri
dari tauhid, Hubungan Manusia dengan Allah,
Hubungan Manusia dengan Manusia,
Hubungan Manusia dengan Alam. Dan didukung dengan adanya 4 prinsip yang menjadi
pegangan dalam dunia PMII, diantaranya : Toleransi (tasamuh), Moderat (tawassuth), Seimbang
(Tawazun), Proporsional (Ta’adul).
- Tujuan Pokok PMII
Adapun tujuan PMII (Visi) ada dalam Bab
IV Pasal 4 yaitu: ”Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada
Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam
mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan
Indonesia.”
5.
Kegiatan keagamaan dalam PMII
Terdapat beberapa agenda kegiatan keagamaan yang
dilakukan oleh PMII. Terbagi menjadi agenda mingguan, bulanan, serta adanya
agenda tematik.
1. Agenda Mingguan : diadakannya dziba’an , pengajian
setiap malam jum’at, tahlil umum, diskusi
2. Agenda Bulanan
3. Agenda Temattik : agenda ini lebih terfokus pada
perayaan hari – hari besar, pengajian kitab ( khusus pengurus)
- Pandangan PMII terhadap Penerus Bangsa
Dengan
adanya degradasi moral saat ini yang menempel pada tubuh penerus bangsa yang
dipengaruhi oleh beberapa factor seperti globalisasi, konsumerisme, kurangnya
filter keagamaan pada jiwa penerus bangsa membuat para penerus bangsa menjadi
lebih egois, apatis, serta oportunis. Dengan ini PMII berharap dapat menjadi
sebuah wadah yang pas untuk mementingkan rakyat, dan tidak mudah terpengaruh
oleh budaya asing.
BAB V
KESIMPULAN
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
atau disingkat PMII, merupakan satu dari elemen mahasiswa yang terus
bercita-cita mewujudkan bangsa Indonesia ke depan menjadi lebih baik. Proses
kelahiran PMII terkait dengan perjalanan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU),
yang lahir pada 24 Februari 1954, dan bertujuan untuk mewadahi dan mendidik
kader-kader NU demi meneruskan perjuangan NU. Pada Desember 1955 di Jakarta,
Ikatan Mahasiswa Nahdhatul Ulama (IMANU) memiliki ide untuk mendirikan
organisasi sendiri yang diprakarsai oleh beberapa Pimpinan Pusat IPNU,
diantaranya Tolchah Mansyur, Ismail Makky dll. Akhirnya, pada tanggal 14-16
April 1960 dilaksanakan Musyawarah Nasional Mahasiswa NU bertempat di Taman
Pendidikan Puteri Khadijah Surabaya. Pada saat itu diperdebatkan nama
organisasi yang akan didirikan. Delegasi Yogyakarta mengusulkan nama Himpunan
atau Perhimpunan Mahasiswa Sunny. Delegasi Bandung dan Surakarta mengusulkan
nama PMII. Maka secara resmi pada tanggal 17 April 1960 dinyatakan sebagai
hari lahir PMII. PMII Tarbiyah baru lahir
± 5 tahun setelah PMII Komisariat Walisongo bediri. Ketua pertamanya
sekarang menjadi Dosen di UNWAHAS yakni Dr. Nur Rahmat. PMII Rayon Tarbiyah sendiri
sudah berumur ± 34 tahun, dimana sebelumnya nama dari PMII Rayon Abdurrahman
Wahid itu bernama PMII Rayon Tarbiyah. Tujuan PMII yaitu dengan terbentuknya
pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur,
berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen
memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
PMII memiliki
peganagan sebagai dasar sumber yang kuat yang dikenal Nilai Dasar Pergerakan
(NDP). Rumusan-Rumusan NDP terdiri dari tauhid, Hubungan
Manusia dengan Allah, Hubungan Manusia dengan Manusia, Hubungan Manusia dengan Alam. Kegiatan keagamaan yang dilakukan
oleh PMII. Terbagi menjadi agenda mingguan, bulanan, serta adanya agenda
tematik. Seperti halnya tahlil, dziba’an
pengajian setiap malam jum,at, pengajian pada hari besar Islam. PMII berharap
dapat menjadi sebuah wadah yang pas untuk mementingkan rakyat, dan tidak mudah
terpengaruh oleh budaya asing.
DAFTAR
PUSTAKA
Ida, Laode. 2004. NU
Muda: Kaum Progresif dan sekularisme.Jakarta: Erlangga.
2013. Buku Panduan
MAPABA 2013.Semarang : Lembaga Kajian dan Penerbitan (LKaP) PMII Rayon Abdurrahman
Wahid.
Nama : Dewi Zulaeva
NIM
: 133911053
TTL
: Tegal, 24 Maret 1995
Jurusan
: PGMI 3B
Nama
: Cyntia Ayu Puspanitiyas
NIM
: 133911061
TTL
: Banjarnegara, 5 Juni 1993
Jurusan
: PGMI 3B
Nama
: Lina Indah Nurmalita
NIM
: 133911063
TTL
: Jakarta, 23 Maret 1996
Jurusan : PGMI 3B
Nama : Yulizar Farid Firdaus
TTL :
Jurusan :
Nama : Khaerul Umam
TTL :
Pemalang, 28 November 1993
Jurusan :
Tadris Fisika
LAMPIRAN – LAMPIRAN
ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA (AD/ART)
PERGERAKAN
MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII)
ANGGARAN
DASAR
BAB I : NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN
BAB II : ASAS
BAB III : SIFAT
BAB IV : TUJUAN DAN USAHA
BAB V : ANGGOTA DAN KADER
BAB VI : STRUKTUR ORGANISASI
BAB VII : PERMUSYAWARATAN
BAB VIII : WADAH
PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
BAB IX : PERUBAHAN DAN PERALIHAN
ANGGARAN RUMAH TANGGA
BAB I : ATRIBUT
BAB II : USAHA
BAB III : KEANGGOTAAN
BAB IV :
STRUKTUR ORGANISASI, SUSUNAN PENGURUS, TUGAS DAN WEWENANG
BAB V : LEMBAGA-LEMBAGA
BAB VI : PENGISIAN LOWONGAN JABATAN ANTAR WAKTU
BAB VII : KUOTA KEPENGURUSAN
BAB VIII : PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
BAB IX : WADAH PEREMPUAN
BAB X : MAJELIS PEMBINA
BAB XI : PERMUSAWARATAN
BAB XII : PENUTUP
FOTO
HASIL WAWANCARA




